Mahasiswa Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa
Kebangkitan suatu bangsa tidak dapat
terlepas dari peran pemuda di dalamnya. Dalam catatan berbagai sejarah,
tidak dapat dipungkiri bahwa pemuda merupakan rahasia kebangkitan yang
mengibarkan panji-panji kemenangannya.
“Oleh karena itu, sejak dulu
hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap
kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah,
pemuda adalah pengibar panji-panjinya” (Hasan Al-Banna)
Mahasiswa adalah bagian dari pemuda
yang disadari atau tidak mahasiswa merupakan sebuah entitas unik yang
memiliki posisi tersendiri dalam masyarakat. Sejarah bangsa mencatat
berbagai peran-peran mahasiswa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa
ini. Mahasiswa sebagai pemuda yang terpelajar seringkali menjadi aktor
dalam sejarah peradaban bangsa. Sumpah pemuda tahun 1928, proklamsi
kemerdekan 1945, serta tumbangnya orde baru tahun 1966 dan orde lama
tahun 1998 merupakan suatu fakta peran mahasiswa dalam memperjuangkan
bangsa ini.
Namun, semua
akan menjadi berbeda ketika mahasiswa hanya diam saja. Sungguh ironi
memang, ketika sekarang sebagian mahasiswa hanya berpikiran instan,
pragmatis, individualis, apatis bahkan tidak peka terhadap keadaan
masyarakat di lingkungan sekitarnya. Mereka lebih sering mengeluh,
bersikap putus asa, bahkan acuh terhadap program-program pembangunan
yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini. Mereka lebih suka pergi
ke tempat-tempat hiburan, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya yang
dapat membuat mereka merasa nyaman.
Padahal mahasiswa hendaknya berakhlak
mulia, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung
jawab, memilki daya saing, berjiwa pemimpin, dan memiliki nasionalisme
yang tinggi tehadap bangsa. Kini bangsa sedang menanti sepak terjang
para mahasiswa yang diharapkan akan merubah keadaan bangsa ini.
Mahasiswa merupakan tumpuan berbagai pihak. Mahasiswa menjadi harapan
masyarakat dan bangsa untuk merubah peradaban manusia ke arah yang lebih
baik.
Peran Mahasiswa
Sebagai mahasiswa setidaknya terdapat peran yang melekat dalam usaha pembangunan bangsa ini.
Pertama,
mahasiswa berperan sebagai intelektual akademisi. Ini merupakan tugas
pokok seorang mahasiswa. Seorang intelektual akademisi hendaknya tidak
hanya memiliki kecerdasan intelektual saja, namun juga memiliki
kecerdasan spiritual. Seperti kita ketahui, bangsa ini banyak memiliki
orang-orang pintar, namun sedikit memiliki orang-orang yang bermoral.
Akibatnya banyak sekali kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara ini.
Ini disebabkan karena segala sesuatu tidak diseimbangkan antara fikiran
logika rasional dan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua, mahasiswa berperan sebagai pencetus perubahan (creator of change). Mahasiswa
intelektual akan menjadi aktor yang akan merubah keadaan bangsa ini ke
depan. Apa yang dilakukan mahasiswa saat ini akan menjadi cerminan
bangsa pada masa yang akan datang. Semua itu bermula dari diri kita
pribadi. Siapkah kita menjadi creator of change bagi kemajuan bangsa ini?. Tentu tidaklah mudah menjadi creator of change di tengah gejolak multidimensi seperti sekarang ini. Tapi ini merupakan suatu keharusan dan tugas mutlak dari seorang mahasiswa.
Ketiga, mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan (Iron Stock).
Waktu terus menerus bergulir. Tak akan ada yang mampu menghentikannya.
Regenerasi para pemimpin-pemimpin bangsa menjadi suatu keniscayaan.
Begitu pula dengan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Bangsa ini
membutuhkan regenerasi baru. Mengganti para generasi terdahulu dengan
generasi baru. Mahasiswa disiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.
Mahasiswa harus siap dengan segala tuntutan untuk mengemban amanah
menjadi pemimpin masa depan.
Keempat, mahasiswa berperan sebagai Social Control. Mahasiswa
dengan gagasan dan ilmu yang dimilikinya berperan untuk menjaga dan
memperbaiki nilai dan norma sosial yang ada dalam masyarakat. Mahasiswa
mampu menyumbangkan gagasan-gagasan kretifnya untuk merubah keadaan
bangsa menuju kondisi ideal yang dicita-citakan.
Perubahan yang harus dilakukan
Perubahan timbul ketika dalam masyarakat terdapat perbedaan antara realita yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya.
Langkah pertama
yang harus dilakukan dalam konteks ini adalah mengenal dan memiliki
gambaran mengenai kondisi ideal yang dicita-citakan. Untuk mengetahui
hal ini adalah dengan usaha mendalami dan mengkaji sumber-sumber
pengetahuan. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan diskusi dan dialog
yang rasional dan analitis. Pada langkah ini fungsi mahasiswa sebagai
intelektual akademisi dan fungsi Iron Stock sedang dibentuk, yaitu dengan lahirnya mahasiswa yang visioner dan memiliki pandangan ke depan.
Jika langkah pertama ini sudah dilalui,
maka selanjutnya adalah membandingkan realita yang ada dengan kondisi
ideal yang diharapkan. Jika sudah sesuai maka harus dipertahankan. Jika
belum, maka harus ada usaha penyadaran terhadap realita tersebut.
Pada langkah kedua ini fungsi mahasiswa sebagai social control sedang diproses. Sebagai social control
mahasiswa dapat memberikan nasehat, kritik dan saran terhadap realita
yang tidak sesuai dengan kondisi ideal yang dicita-citakan. Dengan
kesadaran ini mahasiswa dan masyarakat akan terdorong untuk melakukan
perubahan ke arah yang lebih baik. Setelah kesadaran ini terbentuk, maka
terwujudlah fungsi mahasiswa sebagai creator of change.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar